Rabu, 14 September 2011

Memanfaatkan Microsoft word 2007 sebagai media pembelajaran geometri di SMP


By Dr. Marsigit, M.A.
The psychological aspect that found, Reviewed by: Dian Permatasari (10313244018)

Using Microsoft word 2007 is a good way for learning geometry in the junior high school.
Microsoft word 2007 contain SmartArt Graphic program that can help user to make a wide range of graphic both two-dimensional or three-dimensional.

The basic forms of geometry can be obtained from the menu insert and select submenu “shapes”. The forms of geometry is available in the menu “Basic Shapes”. To draw objects using SmartArt Graphic, click the menu “insert” and then click “SmartArt” . for colour selection we can click “design” and then click “change colour”.
By utilizing the various facilities in Microsot Office 2007 we can develop learning geometry in junior high school. In particular, junior High School competency standards relating to geometric capability can be described as follows :
1.       understand the relationship line to line, line with an angle, corner angle and determine its size
2.       understand the concept of a rectangle and a triangle and determine its size
3.       using Pythagoras theorem in problem solving
4.       determining element of the circle and the circle, and size
5.       understand the properties of the cube, beam, prism, pyramid and its parts, and determine its size
6.       understand “ kesebangunan bangun datar” and its use in problem solving
7.       understand the properties of tubes, cones, spheres, and determine its size

Minggu, 04 September 2011

THE ICEBERG APPROACH OF LEARNING FRACTIONS IN JUNIOR HIGH SCHOOL: TEACHERS’ SIMULATIONS OF PRIOR TO LESSON STUDY ACTIVITIES


By Dr. Marsigit
Reviewed by : Dian Permatasari
NIM/ Prodi : 10313244018/ International Mathematics Education

Makalah ini berisi tentang pendekatan realistik yang digunakan untuk pembelajaran tentang pecahan di SMP dengan menggunakan Lesson Study.
Matematika di SMP berfungsi untuk mendorong siswa berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, kreatif dan dapat berkolaborasi dengan orang lain. Para siswa perlu mengembangkan keterampilan pemecahan masalah baik masalah tertutup atau terbuka. Dalam memecahkan masalah, siswa perlu kreatif untuk mengembangkan cara dan alternatif pemecahan masalah, mengembangkan model matematika, dan untuk memperkirakan hasilnya. Pendekatan kontekstual dan realistis disarankan untuk dikembangkan guru untuk mendorong mathematical thinking di sekolah dasar. Dengan pendekatan ini, diharapkan siswa selangkah demi selangkah belajar dan menguasai matematika dengan antusias.
Matematika harus dekat dengan anak – anak dan sesuai dengan kehidupan sehari – hari. Namun, kata realistik itu tidak hanya berarti berhubungan dengan dunia nyata tapi juga dengan masalah yang ada di dalam pikiran siswa. Pendidikan matematika yang diselenggarakan sebagai suatu proses penemuan yang terarah, dimana siswa dapat mengalami proses yang sama dengan proses penemuan matematika.
Meskipun, model iceberg membantu siswa untuk membangun konsep pecahan mereka sendiri, tetapi siswa masih kesulitan untuk memecahkan masalah secara simbolis. Namun, mereka menyelesaikan masalah yang serupa dengan konteks situasi dunia nyata. Banyak dari guru yang mengakui bahwa representasi pecahan adalah hal yang sangat abstrak dan sulit bagi siswa. Sementara itu, mereka juga menemukan bahwa model iceberg adalah pendekatan yang sangat berguna dan pentinga dalam pembelajaran pecahan pada siswa SMP. source: http://staff.uny.ac.id/dosen/marsigit-dr-ma

Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 6: Apakah Matematika itu Ilmu?


By Marsigit
The psychological aspect that found by Dian Permatasari (10313244018)

The following elegy still have related with intuition. ‘Is Mathematics is Science?’ this question is from Immanuel Kant, and he answers the question in his book "Critic of Pure Reason.” 

According to Kant, mathematics can be science but can no. mathematics will be science if it builds in above the intuition. The nature of intuition is space and time. So mathematics will be science if build in above space and time. Because of mathematics as science must be built in space and time intuition. So at the end, Kant have a conclusion that ‘Mathematics will be science if it have synthetic priori characteristics. Pure Logic is viewed just as A Priori and not Synthetic, because of Pure Logic have analytic characteristic.
Thereby according to Kant, Pure Logic is not science. Because Pure Logic is not science, it is not give information anything except about consistent that in itself. 

http://powermathematics.blogspot.com

Elegi Menggapai "Foundation of Mathematics Education: The Guru of Ernest"


Oleh Marsigit
Aspek Psikologi Yang Terkandung, Direview oleh Dian Permatasari (10313244018)


Pondasi dari matematika adalah menyelidiki keadaan dan dasar dari pendidikan matematika. Paul Ernest (1994) mempunyai beberapa pertanyaan yang berhubungan dengan pondasi pendidikan matematika yaitu sebagai berikut :
Apa dasar dari pendidikan matematika sebagai ladang pengetahuan? Apakah pendidikan matematika adalah sebuah disiplin, ladang untuk penyelidikan, area antar cabang ilmu pengetahuan, asal dari aplikasi ilmu, atau apa? Apa hubungannya dengan ilmu yang lain, seperti filsafat, sosiologi, psikologi, linguistik  dll? Bagaimana kita beranjak mengetahui dalam pendidikan matematika? Apa dasar dari tuntutan pengetahuan di dalam penelitian pendidikan matematika? Apa metode penelitian dan metodologi yang digunakan dan apa filosofi dari dasar dan keadaan? Bagaimana komunitas peneliti pendidikan matematika menilai tuntutan pengetahuan? Bagaimana standar tersebut diaplikasikan? Apa peran dan fungsi dari peneliti dalam pendidikan matematika? Apa keadaan dari teori  dalam pendidikan matematika? Apakah kita menyediakan teori dan konsep dari ilmu lain atau tumbuh dengan sendirinya? Bagaimana mempunyai pengembangan yang modern dalam filsafat (struktur tonggak, struktur modern,  ilmu menerjemahkan, semiotics, dll) berdampak pada pendidikan matematika? Apa pengaruh dari penelitian dalam pendidikan matematika atau ilmu lain? Dapatkan filsafat pendidikan matematika mempunyai banyak pengaruh dalam praktik belajar mengajar, dalam penelitian pendidikan matematika, atau dalam ilmu lainnya?
Itu boleh muncul dalam pondasi pendidikan matematika yang menjalankan pembenaran dari keadaan dan dasar dari pendidikan matematika dalam kasus ontologi, epistemologi, dan axiologi. Oleh sebab itu, kita akan belajar tentang dasar ontologi dari pendidikan matematika, dasar epistemologi dari pendidikan matematika, dan dasar axiologi dari pendidikan matematika, atau kombinasi dari dua atau ketiganya
http://powermathematics.blogspot.com

Elegi Menggapai Ontologi dan Epistemologi Jawa: Hubungan subyek predikat dalam Serat Sastra Gending


By Marsigit
The psychological aspect that found
By Dian Permatasari (10313244018)

The ontology is to answer the nature. Serat Gending is the creation of Sultan Agung in Mataram (1613-1645). Damarjadi Supajar uncover that this creation contain the value of the high of philosophy. In this elegy, Mr. Marsigit just focus in the little part the content of serat Sastra Gending that show there are a thought about the ontology and epistemology of the relation about the subject and predicate. The relation about the subject and predicate is collateral with the thought of Immanuel Kant (1724-1802) that the end produce the analytic and synthetic thought process.
in below is the relation about the subject and predicate in Serat Sastra Gending (Damarjati Supajar, 2001):
1.       If the subject is DZAT, so the predicate is SIFAT
2.       If the subject is RASA, so the predicate is PANGRASA. If the subject is CIPTA, so the predicate is RIPTA. If the subject is YANG DISEMBAH, so the predicate is YANG MENYEMBAH
3.       If the subject is KODRAT, so the predicate is IRADAT. If the subject is YANG KADIM, so the predicate is YANG BARU, if the subject is SASTRA, so the predicate is GENDING, if the subject is YANG DISEMBAH, so the predicate is YANG MENYEMBAH, If the subject is RASA, so the predicate is PANGRASA.
4.       If the subject is YANG BERCERMIN, so the predicate is BAYANGANNYA.
5.       If the subject is SUARA, so the predicate is GEMA. If the subject is LAUTAN, so the predicate is IKANNYA
6.       If the subject is PRADANGGA, so the predicate is GENDING
7.       If the subject is PAPAN TULIS, so the predicate is TULISANNYA, If the subject is YANG DISEMBAH, so the predicate is YANG MENYEMBAH
8.       If the subject is MANIKMAYA, so the predicate is BATARA GURU
9.       If the subject is WISNU, so the predicate is KRESNA
http://powermathematics.blogspot.com